Hukum Pakaian Wanita Sampai Menyentuh Tanah

KIta kerap sekali melihat pakaian wanita sampai menyentuh tanah. Lantas, apakah hukum pakaian wanita sampai menyentuh tanah itu?

Memang bukan sesuatu yang tidak mungkin bagi seorang wanita untuk mengalami hal ini.

Dimana, bagian bawah dari pakaian mereka menyentuh tanah.

Umumnya seperti pakaian jenis gamis, yang merupakan bentuk pakaian yang lebih panjang ke bawah, dan hingga menutupi bagian kaki.

Dengan bentuk yang seperti itu, tentu kerap sekali menyentuh tanah baik sedikit maupun banyak.

Lantas beberapa diantara kita terkadang mengkhawatirkan persoalan ini.

Tidak sedikit juga orang yang menanyakan soal hukum pakaian wanita sampai menyentuh tanah ini.

Adapun jawabannya sebagai berikut.

Hukum Pakaian Wanita Sampai Menyentuh Tanah

Hukum pakaian wanita yang sampai menyentuh tanah adalah ma’fu (dimaafkan, ditolerin), meskipun tanah yang dilewatinya dalam keadaan basah.

Tetapi, ini dimaksudkan pada jalanan yang setelahnya adalah bersih/suci, maka statusnya ma’fu.

Dalilnya adalah hadis yang diketengahkan oleh Abu Dawud, sebagai berikut:

اَلَيْسَ بَعْدَهَا طَرِيْقٌ هِيَ اَطْيَبُ مِنْهَا قَالَتْ قُلْتُ بَلَى قَالَ فَهَذِهِ بِهَذهِ

“Bukankah sesudah jalan tersebut, ada jalan lain yang tanahnya suci?” Wanita tersebut menjawab: “Benar.” Nabi bersabda: “Yang ini dan yang itu…”

Dari hadis di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dalam berpakaian bagi seorang wanita diharapkan untuk menjaga pakaiannya agar terhindar dari kotoran selama ia berada di jalan.

Memang bukan merupakan sesuatu yang mudah untuk itu.

Tetapi, upaya yang lebih merupakan bagian dari ibadah untuk ini.

Jalanan yang dilalui tentu tidak seluruhnya berada dalam tanah yang kotor/basah.

Melainkan tentunya ada jalan yang lebih baik setelahnya.

Disinilah yang menjadi pembersih dari tanah yang kotor (yang dilewati sebelumnya).

Hadis lain dari Ummu Salamah juga mengatakan bahwa seorang wanita pernah berkata kepadanya:

“Sesungguhnya pancung kainku panjang, dan jika berjalan aku melewati tempat yang kotor. Bagaimana ini?”

Lalu ia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:

يُطَهِّرُهُ مَا بَعْدَهُ

“Tanah suci yang ada di jalan sesudah jalan yang kotor itu otomatis menjadi pembersihnya.”

Tinggalkan komentar